Ia menambahkan, perempuan kerap merasa harus tampil sempurna untuk bisa menjadi pemimpin. Namun, belajar dari semangat Kartini, inspirasi justru lahir dari tindakan sederhana.
“Untuk menginspirasi tidak harus melalui panggung besar. Dimulai dari hal kecil, seperti menghormati orang tua, menghargai sesama, dan memperlakukan orang lain dengan martabat. Itulah internalisasi budaya yang sesungguhnya,” jelasnya.
Di era digital, Prof Kesi juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan.
Ia menekankan agar teknologi tidak menggerus empati dan hubungan sosial.
“Setinggi apa pun teknologi yang kita miliki, harus tetap menyentuh sisi manusiawi. Jangan biarkan algoritma menggantikan empati atau layar gadget memutus silaturahmi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut peringatan Hari Kartini menjadi momentum bagi civitas akademika Universitas Semarang (USM) untuk merefleksikan nilai-nilai perjuangan perempuan.












