Sampah yang dikumpulkan tidak hanya dijual kembali, tetapi sebagian diolah dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun peternakan.
“Awalnya hanya menerima sampah plastik, kardus, minyak jelantah, kaleng dan botol bekas air kemasan. Lalu perlahan kami melangkah ke pertanian lebih dulu dan berkembang ke yang lainnya,” ujar Dharant saat ditemui di lokasi Omah Keboen.
Dari aktivitas sederhana mengumpulkan botol bekas, pengelola kemudian mencoba memanfaatkannya sebagai media urban farming.
Lahan kosong di sekitar rumah dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman dengan menggunakan wadah bekas.
Sejak 2022, konsep tersebut terus dikembangkan. Saat ini, Omah Keboen telah memiliki sekitar 30 nasabah bank sampah yang secara rutin menyetorkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Tak berhenti pada pengelolaan sampah dan pertanian, Omah Keboen kemudian merambah sektor perikanan dengan membudidayakan ikan lele. Hasilnya pun mulai dirasakan.












