Target lainnya adalah memiliki mesin yang mampu mengolah botol bekas air mineral menjadi sapu.
“Semoga tahun ini seluruh target itu bisa terwujud. Jujur, kami masih belum menemukan penjual mesin semacam itu,” ungkap Dharant.
Pengembangan tersebut diharapkan semakin meningkatkan nilai ekonomi sampah yang selama ini masih dianggap sebagai barang tidak berguna.
Pada saat yang sama, upaya tersebut menjadi bagian dari gerakan mengurangi sampah plastik di Kota Semarang.
Lurah Wonodri Noor Chosim mengapresiasi perkembangan Bank Sampah Omah Keboen yang dinilainya tidak hanya berorientasi pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan.
“Bank Sampah Omah Keboen ini tidak saja melakukan pemberdayaan warga, tetapi juga berupaya mengurangi sampah plastik dan yang pasti melakukan upaya ketahanan pangan seperti program dan visi Wali Kota Agustina Wilujeng,” katanya.












