“Banyak vila, rumah mewah di kawasan real estate, maupun hotel yang dimiliki investor dari luar Kota Batu. Vila-vila tersebut disewakan kepada wisatawan sehingga nilai tambah ekonominya lebih banyak dinikmati pemilik dari luar daerah. Masyarakat lokal umumnya hanya memperoleh manfaat sebagai tenaga kerja,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai pengembangan sektor pariwisata ke depan harus mengedepankan model yang lebih inklusif dengan memperbesar keterlibatan masyarakat sebagai pemilik modal, pelaku usaha, maupun pengelola destinasi.
“Pariwisata akan memberikan dampak pembangunan yang lebih berkelanjutan apabila masyarakat tidak hanya menjadi penonton atau pekerja, tetapi juga menjadi pemilik dan pelaku utama dalam ekosistem ekonomi wisata,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM Language and Culture Center/USM LCC), Adi Ekopriyono, yang turut mengikuti technical visit, menilai nilai tambah ekonomi yang diterima petani buah di kawasan wisata masih relatif rendah.












