Menurutnya, petani apel, stroberi, maupun jeruk selama ini umumnya hanya berfokus pada kegiatan budidaya, kemudian menjual hasil panen kepada pedagang.
Akibatnya, keuntungan terbesar justru dinikmati pihak lain yang mengelola buah tersebut menjadi paket wisata petik buah maupun produk olahan.
“Padahal, apabila petani berani menjual langsung kepada konsumen atau mengolah hasil panennya menjadi produk bernilai tambah seperti keripik apel, sirup, jus, maupun produk olahan lainnya, pendapatan mereka tentu akan jauh lebih besar,” kata Adi.
Ia berharap model pengembangan desa wisata ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk lokal, pengolahan hasil pertanian, serta keterlibatan aktif warga dalam rantai nilai industri pariwisata.***












