Kudapan tersebut bahkan kerap diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa berkah bagi siapa pun yang mendapatkannya.
Agustina mengapresiasi kuatnya semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan, katanya, terselenggara murni dari swadaya warga tanpa menggunakan anggaran Pemerintah Kota Semarang.
Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah menjadi modal penting untuk menjaga warisan budaya lokal sekaligus mengembangkan potensi wisata berbasis tradisi.
Ke depan, Agustina berharap Ndas Maling juga dapat lolos kurasi Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) sehingga dapat dikembangkan sebagai produk oleh-oleh khas Kota Semarang, khususnya dari Kecamatan Genuk.
Melalui proses kurasi tersebut, kemasan maupun cita rasa diharapkan semakin menarik tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.












