Ia tidak harus selalu menjadi orang yang mengambil keputusan terakhir. Perannya dapat berkembang menjadi penjaga nilai, mentor, pembuka perspektif, sekaligus pengawal arah strategis.
Perubahan peran semacam itu merupakan bentuk lain dari kekuasaan yang lebih dewasa, yakni kemampuan membuat orang lain mampu.
Seorang pemimpin yang hebat tidak hanya menghasilkan pengikut, tetapi juga menghasilkan pemimpin baru.
Jika setiap keputusan harus menunggu dirinya, berarti organisasi belum sepenuhnya mandiri.
Sebaliknya, ketika orang-orang di dalam organisasi mampu mengambil keputusan dengan nilai dan arah yang sama, berarti pemimpin telah berhasil menanamkan sesuatu yang jauh lebih tahan lama daripada sekadar instruksi.
Bagi perusahaan keluarga, persoalan regenerasi memiliki dimensi yang lebih kompleks.
Perusahaan bukan sekadar aset ekonomi. Di dalamnya terdapat sejarah keluarga, nilai, perjuangan, bahkan identitas beberapa generasi.












