Menariknya, satu telepon seluler hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan satu korban.
“Jadi satu korban satu handphone. Setelah digunakan, handphone tersebut dimatikan dan mereka menggunakan nomor baru dan handphone baru lagi untuk mencari korban berikutnya. Cara ini dilakukan untuk menghindari pelacakan,” ungkap Kombes Pol. Himawan.
Struktur Organisasi Tersusun Rapi
Penyidikan juga mengungkap bahwa sindikat tersebut memiliki struktur organisasi yang tersusun rapi.
Pada level awal terdapat asisten marketing yang bertugas mencari calon korban melalui aplikasi kencan, Facebook, dan berbagai platform digital lainnya.
Jika calon korban merespons, komunikasi kemudian dialihkan kepada marketing yang bertugas membangun hubungan emosional lebih lanjut.
Para marketing menggunakan identitas perempuan palsu dan foto model untuk merayu korban. Menurut penyidik, sebagian besar marketing justru merupakan laki-laki yang berpura-pura menjadi perempuan saat berkomunikasi dengan korban.












